Selasa, 03 Januari 2012

mencari dermaga

Dia seperti kapal pesiar,
Penampilan mewah, tubuh seksi, suara halus, sapaan yang ramah dan perawakan yang serba luar biasa.
Jadi tak salah jika banyak yang me-ngimpikan berlayar dengannya,
tentunya dengan senang hati menghabiskan waktu dibentangan samudra luas.

Mesti sudah 28 tahun menikmati birunya laut dan kelamnya malam, kenapa tidak ada seorang penumpang pun?
Apakah tidak ada yang mampu membayar mahal demi sebuah perjalanan menyenangkan dengan pelayanan yang diyakini memuaskan itu?
Mungkinkah tidak seorangpun yang memenuhi criteria dan persyaratan sebagai penumpang?
atau pemilik kapal pesiar itu terlalu cerewet sehingga membuat lari para penggemarnya?

Atau jangan-jangan…, karena takdir yang menginginkan dia untuk tetap berlayar,
Dengan…
Tanpa dermaga yang bisa menjadi sandaran baginya,
Tak ada tempat beristirahat saat pondasinya mulai melemah dan rapuh,
Tak pernah menikmati perjalanan dihari tua dengan penumpang sejati,
Bersaing dengan kapal-kapal pesiar yang mulai ramai berlayar dengan teknologi dan modifikasi yang lebih canggih, dan bentrok dengan kapal-kapal imut yang begitu kencang larinya.

Dia terus saja berlayar tampa lelah,
Tampa perduli dengan kicau alam yang menyayat hati,
Bahkan dia tak pernah takut dengan badai yang kerap menerjang.

Pernah sekali waktu aku beranikan diri bertanya kepadanya,
”Mengapa tak membawa penumpang?”
”Aku mau jadi penumpang tunggal, dan bersedia membayar mahal untuk itu”

Jawabnya, ”Aku sedang menjalankan sebuah amanah”
”Aku tidak butuh bayaran, aku bersedia membawamu berlayar sampai tujuan akhir jika kau mampu meruntuhkan keegoisan dan merangkulku bersama kesabaran dan keikhlasan”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar